indonesia

Tampilkan postingan dengan label internasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label internasional. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Januari 2009



Prioritaskan Ekonomi di Pidato Inaugurasi

WASHINGTON DC - Tengah malam tadi presiden terpilih Barack Hussein Obama resmi menjadi presiden ke-44 Amerika Serikat (AS). Pelantikan presiden berkulit hitam pertama AS itu dilakukan di teras barat Gedung Capitol, gedung parlemen AS yang dibangun dengan bantuan budak-budak dua abad lampau. Obama mengawali agenda resmi pada hari paling sejarah dalam hidupnya itu dengan mendatangi Presiden George W Bush di Gedung Putih pada pukul 10.00 waktu setempat. Dalam perjalanan dari Blair House, tempat Obama tinggal sementara di Washington DC, Obama dan keluarga untuk kali pertama mengendarai mobil kepresidenan Cadillac One yang berjuluk ”The Beast”. Bush dan istri, Laura, menyambut Obama dan istri, Michele, di serambi Gedung Putih. Michelle dengan balutan blus terusan warna kuning bermanik-manik tampak anggun menggandeng kedua putrinya, Malia dan Sasha, yang memakai setelan dengan warna senada.
Setelah berbasa-basi sebentar, rombongan Obama dan Bush bersama-sama melaju lokasi pelantikan Gedung Capitol di Pennsylvania Avenue.
Ratusan ribu orang yang bersiap-siap di sekitar lokasi sejak pagi buta melambaikan tangan dan bersorak-sorak ketika mobil limusin berwarna hitam Obama melaju pelan di jalan utara Gedung Putih sampai Gedung Capitol. Saat Obama kembali ke Gedung Putih usai dilantik menjadi presiden ke-44 AS, Bush dalam perjalanan pulang ke rumah peternakannya di Texas bersama mobil-mobil pengangkut barang.
Pukul 11.15 waktu setempat atau pukul 23.15 WIB rombongan Obama dan Bush tiba di Gedung Capitol. Mereka disambut oleh Senator Dianne Feinstein, ketua panitia pelantikan. Setelah mengikuti doa pelantikan dari Rick Warren, seorang pastor evangalis konservatif dan gelaran musik oleh Aretha Franklin acara inti inaugurasi yaitu pengambilan sumpah dimulai.
Tepat pukul 11.46 waktu setempat atau pukul 23.46 WIB, Joseph Biden disumpah lebih dulu sebagai wakil presiden baru AS. Sepuluh menit kemudian giliran Obama. Mantan senator berumur 47 tahun itu diambil sumpahnya di bawah Injil yang sama dengan yang digunakan Abraham Lincoln, presiden ke-16 AS yang Proklamasi Emansipasinya membebaskan perbudakan. Dengan jas hitam resmi, Obama menirukan bunyi sumpah yang dibacakan Ketua Mahkamah Agung AS John G Roberts. ”Saya dengan setia akan mengabdikan diri kepada rakyat Amerika sepenuh hati,” bunyi salah satu sumpah Obama.
Setelah itu Obama menerima nuclear football, yakni sebuah koper hitam berisi kode nuklir AS untuk memerintahkan penggunaan senjata nuklir. 1.600 orang terdekat yang hadir di panggung pelantikan dan jutaan orang yang memadati pelataran Gedung Capitol hening saat momen itu terjadi.
Selanjutnya tepat tengah hari, Obama menyampaikan pidato pertamanya sebagai presiden AS. Dalam uraian selama 20 menit yang paling ditunggu-tunggu itu, Obama menekankan dua tema, yaitu tanggung jawab dan akuntabilitas. Obama menegaskan, pemerintahannya akan memprioritaskan pemulihan ekonomi, penarikan pasukan AS dari Irak, serta kode etik pemerintahan pada minggu-minggu pertama.
Obama mengatakan, Amerika terluka karena mentalitas ”yang pertama adalah saya” yang berkontribusi terhadap krisis ekonomi yang kini terjadi. ”Karena itu, saya mengimbau siapa saja, khususnya perusahaan dan bisnisman, untuk mengambil tanggung jawab dengan aksi nyata,” ujarnya.
Pidato itu disambut gegap gempita sekitar dua juta orang yang menjadi saksi langsung momen terbesar dalam sejarah AS itu. Mereka yang telah menunggu enam jam lebih di tengah udara dingin yang menggigit sejak matahari belum terbit itu, bertepuk riuh rendah sambil mengibar-ngibarkan bendera AS pada saat Obama mengakhiri pidato. Jutaan orang itu terdiri atas berbagai ras, wilayah, dan usia. Sebagian dari mereka bahkan terlalu muda dan terlalu tua.
Betty Bryant (70), yang datang dengan bus carteran dari Georgia, saat ditemui di dekat Reflecting Pool di Alun-Alun Nasional (National Mall) menyatakan kebahagiaannya. ”Saya sangat bahagia masih hidup untuk menyaksikan peristiwa yang indah ini,” katanya. Di dekatnya sekelompok orang menyanyikan sebait lagu God Bless America.
Setelah pembacaan puisi oleh Elizabeth Alexander dan doa ucapan syukur yang dipimpin Joseph E Lowery, Obama mengakhiri acara pelantikan dengan mengajak seluruh keluarganya naik ke atas panggung. Mereka bersama seluruh hadirin menyanyikan lagu kebangsaan diiringi Band Angkatan Laut “Sea Chanters.” Setelah itu Obama mengantar mantan Presiden George W Bush dalam sebuah upacara purnabakti sebelum menghadiri acara makan siang bersama pimpinan DPR dan Senat di Statuary Hall, Capitol.
Kemeriahan inaugurasi Obama mencapai puncaknya ketika parade berlangsung di Pennsylvania Avenue. Dipimpin rombongan Obama, arak-arakan berupa float hias yang mewakili 50 negara bagian bergerak megah dari Gedung Capitol menuju Gedung Putih. Lautan manusia menyaksikan parade besar yang mengantarkan Obama ke kediaman barunya sampai empat tahun ke depan. Di Gedung Putih, Obama dan keluarga menjadi tuan rumah untuk sepuluh jamuan resmi.
Upacara pelantikan tadi malam dan masih berlangsung pagi ini, menandai puncak karier politik alumnus SDN Menteng 01 Jakarta yang melesat. Dalam waktu kurang dari lima tahun, politikus Partai Demokrat tersebut bangkit dari senator yang sering diejek media karena ”namanya yang lucu”, sehingga menempati jabatan tertinggi di negara adidaya.
Kemenangan Obama banyak terbantu oleh meluasnya penyangkalan terhadap kebijakan-kebijakan Presiden George W Bush yang meninggalkan Gedung Putih sebagai salah satu presiden AS tergagal dalam sejarah. Peringkat dukungan yang melonjak setelah serangan teroris 11 September 2001, terus merosot tajam akibat Perang Irak, keterlambatan menangani Badai Katrina, serta krisis keuangan terakhir.
Dalam rentang kampanye 16 bulan, Obama berhasil meyakinkan rakyat Amerika. Meski dirinya relatif tidak berpengalaman, dia dapat memutar kembali roda perekonomian dan mengakhiri Perang Irak.
Sebagai orator berbakat dan inspiratif, Obama menyatakan akan mengedepankan diplomasi, mencari solusi global bagi perubahan iklim dunia, menolak penyiksaan, dan menutup penjara Guantanamo. Janji itu ampuh. Bukan hanya rakyat AS yang terpikat sehingga memilihnya dalam pilpres, namun juga dunia. Obamania melanda di mana-mana. Dari tanah leluhurnya di Kenya, tempat tinggalnya saat masih kecil di Indonesia, hingga tempat masa remajanya dihabiskan di Hawaii.
Demam Obama menyapu seantero dunia. Hal itu membuktikan harapan publik bahwa presiden baru AS tersebut akan memimpin dunia memasuki era baru yang bebas krisis

Senin, 19 Januari 2009

Israel-Hamas Hadiahi Obama Damai Gaza


Israel-Hamas Hadiahi Obama Damai Gaza

WASHINGTON DC - Malam nanti, Barack Hussein Obama resmi dilantik menjadi presiden ke-44 Amerika Serikat. Setidaknya, US$150 juta atau setara Rp1,7 triliun harus dikeluarkan untuk mengongkosi acara kolosal itu. Di luar AS, gaung transisi kepemimpinan bersejarah di AS tersebut menghadirkan perdamaian di Gaza, Palestina.
Sehari menjelang inaugurasinya, Obama terlihat begitu menikmati suasana. Di tengah suhu hampir 0 derajat celsius, bersama keluarganya dan keluarga Wapres terpilih Joseph Biden, calon presiden pertama AS dari ras African-American itu menikmati suguhan musik dari konser bertema We Are One di tangga gedung Lincoln Memorial.Beberapa kali Obama menggeleng-gelengkan kepala, bahkan berdendang mengikuti nyanyian dari atas panggung. Saat musikus country Garth Brooks naik ke panggung dan menyanyikan American Pie dan Shout, istri Obama, Michelle, langsung “menembakkan tangannya” mengajak suaminya berdendang. Calon keluarga nomor satu AS itu semakin “panas” dengan menjinjitkan kakinya serta berjoget kecil saat Stevie Wonder membawakan Higher Ground. Kemeriahan itu makin menghangatkan barisan juta warga AS yang memadati Lincoln Memorial hingga Washington Monument.

Saat menutup konser, dalam pidato di hadapan patung idolanya, Presiden Ke-16 AS Abraham Lincoln, Obama menyatakan, mengatasi problem bangsa akan memerlukan waktu dan jalan terjal serta panjang. “Saya berdiri di hadapan Anda dengan penuh keyakinan bahwa Amerika akan bisa mengatasi persoalan ini,” ujar Obama menebar optimisme.
Alumnus SDN Menteng 01 Jakarta itu mengungkapkan, seluruh warga AS dari berbagai latar belakang hanya meminta apa yang dijanjikan sebagai orang AS. “Yaitu, memperbaiki hidup dan melihat anak-anak kita mencapai lebih dari yang telah kita capai,” tegasnya disambut aplaus panjang.
Hari ini, Washington DC dipadati setidaknya dua juta manusia. Berdasar laporan pemerintah setempat, lebih dari 10 ribu bus carteran akan memasuki ibu kota AS itu. Stasiun kereta api juga akan dipadati sejuta penumpang.

Hadiah Gaza
Suasana bahagia dan meriah di ibu kota AS juga menjalar ke Kota Gaza, Palestina. Setelah 22 hari menjadi “neraka” karena dibom dan ditembaki tanpa henti oleh Israel, suasana Gaza tenang sepanjang hari kemarin.
Serdadu Israel terlihat gembira ketika meninggalkan kota yang diporak-porandakannya. Sebagian di antara ribuan rombongan tentara Israel itu bertahan di perbatasan untuk kembali memasuki Gaza, jika kekerasan kembali terjadi.
Di bagian lain, warga Gaza mencoba memulai hidup “normal” pada hari pertama tanpa pertempuran. Di beberapa bagian kota, asap masih mengepul dari reruntuhan puing-puing bangunan. Wartawan BBC yang menyusuri jalan-jalan Kota Gaza kemarin melaporkan, sesekali terdengar isak tangis dari orang yang kehilangan saudara, anak-anak, dan temannya.
Penghentian tembak-menembak secara tiba-tiba oleh kedua pihak yang bertikai itu sulit dibantah tidak terkait dengan pelantikan Obama. Israel dan Hamas terlihat menghindarkan kesan buruk kepada pemimpin baru AS tersebut pada hari pertama masa kerjanya. Dua seteru abadi itu seakan cari muka ke Obama dengan menghadiahkan Perdamaian di Gaza.
Pejabat Kementerian Luar Negeri Israel mengaku bahwa penarikan pasukan dari Gaza harus tuntas sebelum Obama disumpah. “Selasa petang semua harus selesai,” ujar pejabat yang menolak identitasnya diungkapkan itu.


Saat Obama disumpah di Gedung Capitol pada Selasa pukul 11.00 waktu Washington DC, di Israel Selasa malam pukul 19.00.
Dari Hamas, pemimpin dan Perdana Menteri Ismail Haniyeh mengklaim kemenangan mereka di Gaza. Dia menyatakan bahwa Hamas telah mencapai “Kemenangan dari Atas”. “Tuhan memberikan kemenangan bukan hanya untuk satu faksi, partai, atau wilayah, tapi untuk rakyat Palestina,” tegasnya.
Meski tidak menyebut faktor Obama, Haniyeh menyatakan akan menghentikan serangan selama seminggu agar Israel bisa menarik pasukannya dari Jalur Gaza.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Ehud Olmert menuturkan, negaranya tidak punya keinginan untuk menduduki Gaza. “Kami tidak ingin mengontrol Gaza dan ingin secepat mungkin meninggalkan Gaza,” ujarnya dalam makan malam bersama pemimpin dari Inggris, Prancis, Jerman, serta Spanyol kemarin.

Minggu, 18 Januari 2009

Zionis-Israel Ngotot Hancurkan Masjid Al-Aqsha


Tahukah anda mengapa zionis-israel ngotot hancurkan masjid Al-Aqsha..???

Zionis-Israel telah secara terang-terangan memulai proyek penghancuran Masjidil Aqsha yang merupakan masjid tersuci ketiga bagi umat Islam sedunia.

Jika sebelumnya kaum Zionis ini melakukan hal tersebut secara diam-diam, bahkan menyangkalnya dengan berbagai dalih, namun di hari kedua bulan Februari ini mereka telah menyatakan secara terbuka bahwa mereka memang berniat menghancurkan masjid yang pernah menjadi kiblat pertama bagi kaum Muslimin.

Upaya Zionis-Israel untuk menghancurkan Masjidil Aqsha sudah lama diketahui dunia. Keinginan mereka untuk membangun kembali Haikal Sulaiman (The Solomon Temple), di atas reruntuhan Masjidil Aqsha juga telah menjadi rahasia umum. Hanya saja, apa dasar ideologi dan maksud-maksud tersembunyi di balik penghancuran Masjidil Aqsha dan pendirian Haikal Sulaiman tersebut, hal ini masih menjadi pertanyaan besar.

Klaim Sepihak

Haikal Sulaiman diyakini dibangun tahun 960 SM oleh Nabi Sulaiman a.s, 370 tahun kemudian bangsa Babylonia menginvasi Yerusalem dan menghancurkan kuil tersebut.

Setelah itu, tentara Persia yang dipimpin Cyrus merebut Yerusalem dari tangan Babylonia dan membangun kembali Haikal Sulaiman.

Tahun 70 M, pasukan Romawi menyerang Yerusalem dan menghancurkan kembali Haikal Sulaiman rata dengan tanah.
Abad demi abad terus berjalan, namun cita-cita kaum Zionis-Yahudi untuk membangun kembali Haikal Sulaiman terus terpelihara dengan baik di dalam memori bangsanya.

Ketika gerakan Zionisme Internasional menyelenggarakan kongresnya yang pertama di Bassel, Swiss, tahun 1897, memori ini menemukan momentumnya dan Theodore Hertzl menyerukan agar semua Yahudi Diaspora berbondong-bondong memenuhi Tanah Palestina yang disebutnya sebagai Tanah Perjanjian.

Atas klaim sepihak, kaum Zionis ini mengatakan bahwa di bawah tanah Masjidil Aqsha inilah Haikal Sulaiman berdiri. Sebab itu, mereka mengatakan tidak ada pilihan lain kecuali menghancurkan Masjidil Aqsha dan kemudian membangun kembali Haikal Sulaiman di atasnya.

Bagi kaum Zionis, Haikal Sulaiman merupakan pusat dari dunia. Bukan Makkah, bukan pula Vatikan. Haikal Sulaiman-lah pusat seluruh kepercayaan dan pemerintahan segala bangsa. Keyakinan ini bukanlah berangkat tanpa landasan.

Dalam keyakinan Yudaisme yang sesungguhnya telah bergeser jauh dari Taurat yang dibawa oleh Musa a. S., bangsa Yahudi meyakini bahwa di suatu hari nanti seorang Messiah (The Christ) akan mengangkat derajat dan kedudukan bangsa Yahudi menjadi pemimpin dunia.

Kehadiran Mesiah inilah yang menjadi inti dari semangat kaum Yahudi untuk memenuhi Tanah Palestina. Namun hal ini menjadi perdebatan utama di kalangan Yahudi yang pro-Zionis dengan yang anti-Zionis.

Bagi yang pro-Zionisme, mereka menganggap Kuil Sulaiman harus sudah berdiri untuk menyambut kedatangan Messiah yang akan bertahta di atas singgasananya. Sedangkan bagi kaum Yahudi yang menolak Zionisme, bagi mereka, Messiah sendirilah yang akan datang dan memimpin pembangunan kembali Haikal Sulaiman yang pada akhirnya diperuntukkan bagi pusat pemerintahan dunia (One World Order).

Mengenai benar tidaknya lokasi bekas reruntuhan Kuil Sulaiman tepat berada di bawah Masjidil Aqsha, para sejarawan masih berbeda pendapat. Beberapa peneliti bahkan meyakini bahwa wilayah bekas berdirinya Kuil Sulaiman tersebut sesungguhnya berasa di luar kompleks Masjidil Aqsha sekarang ini.

Sejak menjajah Yerusalem di tahun 1967, kaum Zionis selalu berupaya merusak Masjidil Aqsha. Tahun 1969 sekelompok Yahudi fanatik berupaya membakar Masjid ini. Mereka juga terus melakukan penggalian di bawah tanah Masjidil Aqsha dengan alasan tengah melakukan riset arkeologis.

Belum cukup dengan itu, di dalam terowongan-terowongan yang digali, mereka juga mengalirkan air dalam jumlah besar dengan tujuan menggoyahkan kekuatan tanah di bawah masjid agar pondasi masjid menjadi rapuh. Akibatnya sekarang ini banyak pondasi masjid yang sudah rapuh dan jika ada gempa bumi sedikit saja maka bukan mustahil Masjidil Aqsha bisa runtuh.

Sekarang, tentara Zionis sudah secara terang-terangan hendak menghancurkan Masjidil Aqsha. Mereka tidak lagi mengeluarkan dalih macam-macam. Apakah ini merupakan tanda bahwa mereka sudah yakin bahwa sebentar lagi Messiah yang dinanti-nantikan akan segera hadir?

Hari Akhir

Menyongsong berdirinya Kuil Sulaiman, ‘Presiden’ Zionis-Israel Moshe Katsav melayangkan sepucuk surat kepada Perdana Menteri Vatikan yang berisi permintaan agar Tahta Suci Vatikan mengembalikan seluruh harta karun dan benda-benda berharga yang kini memenuhi kompleks Tahta Suci kepada mereka.

Kaum Zionis masih ingat betul, ketika di tahun 70M, pasukan Romawi menyerbu Yerusalem dan memboyong banyak harta karun dari Kuil Sulaiman dan membawanya ke Vatikan.

Jika harta karun sudah dikembalikan, maka ada satu syarat lagi menjelang hadirnya Messiah, yakni mereka harus menemukan dan menyembelih serta membakar seekor sapi betina berbulu merah berusia tiga tahun dan belum pernah melahirkan anak.
Untuk yang satu ini pun kaum Zionis telah mempersiapkannya. Melalui suatu proses rekayasa genetika, di tahun 1997, mereka telah mendapatkan seekor sapi dengan ciri-ciri tersebut.

Hanya saja, mereka terbentur satu persyaratan lagi, yakni penyembelihan dan pembakaran sapi merah ini harus dilakukan di atas kaki Bukit Zaitun.

Masalahnya, daerah ini sekarang belum bisa dijajah Zionis-Israel seperti wilayah Palestina lainnya. Kaki Bukit Zaitun masih berada di tangan yang berhak, yakni di tangan bangsa Palestina. Sebab itu, kaum Zionis selalu berupaya tanpa lelah mengusir orang-orang Palestina dari wilayah ini.

Memperdaya Pemeluk Kristen

Guna mencapai tujuannya, kaum Zionis tidak berusaha sendirian. Mereka juga memperdaya musuh-musuhnya yakni umat Kristen dan kaum Muslimin. Untuk memperdaya umat Kristiani, kaum Zionis menyusupkan nilai-nilai Talmud ke dalam Bibel seperti yang terjadi atas Injil Scofield atau Injil Darby.

Bahkan Injil versi King James sebagai Injil resmi Barat pun demikian. Sebab itu, tidak aneh jika sekarang ini sikap politik umat Kristiani seolah sama sebangun dengan kaum Yahudi. Padahal di dalam banyak ayat-ayat Talmud, kaum Yahudi ini begitu keras permusuhannya terhadap Kristen dan Yesus.

Keyakinan Injil juga menyebutkan tentang hadirnya The Christ kembali ke muka bumi (Maranatha atau The Second Coming) dalam wujud Tuhan seutuhnya. Kaum Yahudi menggiring opininya bahwa Maranatha tidak akan terjadi sebelum Haikal Sulaiman berdiri kembali di Yerusalem.

Kesamaan pandangan inilah yang membuat orang-orang Kristen mendiamkan ulah kaum Zionis yang hendak menghancurkan Masjidil Aqsha. Orang-orang Kristen ini telah terbius dengan retorika dan racun Zionis sehingga tidak bisa bersikap kritis dan mereka lupa bahwa salah satu agenda utama Zionis ini adalah juga meruntuhkan Tahta Suci Vatikan dan memindahkannya ke Yerusalem.

Dari sisi hukum internasional, upaya penghancuran Masjidil Aqsha juga tidak bisa dibenarkan. Berdasarkan Resolusi DK-PBB Nomor 242 dan beberapa resolusi lainnya, rezim Zionis Israel wajib melindungi masjid ini dan menuntut Zionis agar mundur dari seluruh wilayah Tepi Barat Sungai Jordan dan Jalur Gaza, dan menyerahkan wilayah itu kepada penduduk aslinya yang tak lain adalah rakyat Palestina. Namun dalam tataran praktek, resolusi ini tidak dijalankan.

Menurut keyakinan Yahudi, jika Messiah sudah bertahta di atas singgasana Haikal Sulaiman, maka Messiah itu akan memimpin kaum Yahudi untuk memerangi siapa pun yang tidak mau tunduk pada The New World Order, yakni si Yahudi itu sendiri

Hamas Akhiri Perang

Deadline Israel Tinggalkan Gaza Seminggu

KOTA GAZA - Harapan konflik berdarah di Gaza berakhir akhirnya terwujud. Dua pihak yang bertikai sama-sama menyatakan gencatan senjata kemarin. Tim perunding dari kelompok pejuang Hamas menyatakan penghentian baku tembak di Jalur Gaza selama satu minggu. Keputusan itu hanya berselang 12 jam dari pengumuman Israel untuk mengakhiri agresinya ke Gaza dengan melakukan gencatan senjata sepihak mulai Minggu pukul 02.00 waktu setempat (kemarin pukul 07.00 WIB).Juru bicara Hamas Ayman Taha menyatakan, tempo satu minggu dalam gencatan senjata yang ditetapkan Hamas itu untuk memberi waktu Israel menarik seluruh serdadunya dari Gaza. ”Pernyataan saya ini mewakili semua faksi di Palestina, bukan hanya Hamas,” ujarnya di Kairo tadi malam. Pernyataan gencatan senjata Hamas juga disampaikan wakil mereka di Syria, Moussa Abu Marzouk.

”Selain serdadu Israel harus pergi dalam tempo satu minggu, Hamas menuntut pembukaan titik perlintasan bagi masuknya bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina,” ujarnya didampingi para pejabat dari berbagai organisasi yang punya kaitan dengan Hamas.
Sebelumnya, Israel mengumumkan gencatan senjata sepihak, Sabtu (17/1), setelah melakukan serangan selama 22 hari ke Jalur Gaza yang dikuasai Hamas. Namun, tentara Israel masih akan berada di wilayah Palestina.
Perdana Menteri Israel Ehud Olmert, setelah sidang kabinet mengatakan, Israel telah meraih tujuannya dan situasi Gaza sesuai yang diinginkan. Olmert mengatakan, gencatan senjata akan dilakukan mulai Minggu (18/1) pukul 02.00 waktu setempat. Namun, dalam pidatonya Olmert tidak menyebutkan berapa lama Isarel akan menghentikan serangannya. ”Jika Hamas menghentikan serangan, militer Israel akan berangsur-angsur keluar dari wilayah Gaza pada waktunya,” ujar Olmert.
Lima jam setelah gencatan senjata sepihak diumumkan, dampaknya terasa dengan tidak ada satu pun kabar serangan udara dan pertempuran besar di Gaza. Wilayah berpenduduk 1,5 juta jiwa itu untuk kali pertama melewati malam tanpa hujanan bom dalam tiga pekan agresi Israel. Suasana tenang terutama berlaku di sepanjang pantai Jalur Gaza setelah Israel mengistirahatkan mesin-mesin perangnya yang diikuti berhentinya serangan para pejuang Palestina.
Namun, saat hari mulai terang, sekitar pukul 07.00 waktu setempat, Hamas kembali menembakkan lusinan roket ke wilayah Israel. Sumber militer Israel menyebutkan, militan Gaza juga telah melancarkan delapan roket ke Israel saat Olmert mengumumkan gencatan senjata. Dilaporkan Radio Israel, lima roket meledak di dekat Kota Beersheba lima jam setelah Olmert mengatakan pernyataan gencatan senjata.
Osama Hamdan, perwakilan Hamas di Lebanon, dalam wawancaranya dengan televisi Al-Jazeera yang berbasis di Doha, mengatakan, Hamas tidak ada kaitannya dengan gencatan senjata sepihak Israel.
”Kami telah menegaskan, jika tentara Israel tetap berada di Gaza, ini akan menjadi pintu lebar bagi (bangkitnya) perlawanan menghadapi pendudukan.”
Sayap bersenjata Gerakan Perlawanan Islam (Hamas), Brigade Al-Qassam, berikrar akan melanjutkan perlawanan. Dalam pernyataan yang dikirim kepada wartawan, Brigade Al-Qassam menyatakan, ”Pengumuman Olmert memperlihatkan Israel kalah dalam menghadapi perlawanan bersenjata Palestina dan pengumuman gencatan senjata sepihak Israel adalah bukti mengenai kegagalan pendudukan.”
Namun, semua penolakan faksi Hamas itu berubah setelah para pemimpin mereka di pengasingan menyatakan gencatan senjata diberlakukan. Penerimaan Hamas untuk mengakhiri perang disampaikan menjelang pertemuan internasional di Kairo, Mesir, yang dihadiri sejumlah pemimpin Eropa dan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon untuk mengupayakan gencatan senjata langgeng antara Israel dan Hamas.
”Kami siap bekerja sama dengan setiap usaha, terutama Mesir ... untuk mencapai kesepakatan definitif yang memenuhi tuntutan kami, yaitu secara permanen tidak ada lagi blokade dan dibukanya semua perlintasan perbatasan,” ujar Moussa Abu Marzouk, pemimpin senior Hamas di Syria melalui siaran langsung di Syrian TV.
Kesediaan Hamas menghentikan baku tembak diduga terkait jumlah korban sipil yang terus meningkat. Selama perang terjadi, sekolah-sekolah, rumah sakit-rumah sakit, fasilitas PBB, dan ribuan rumah dibombardir Israel. Otoritas Palestina mengklaim nilai kerugian akibat konflik 22 hari itu mencapai US$476 juta (Rp5 triliun lebih). Nilai itu hanya untuk infrastruktur yang hancur.
Sekurang-kurangnya 1.206 warga Palestina, termasuk 410 anak-anak, terbunuh dari serangan maut Israel di wilayah itu sejak 27 Desember,.
Petugas medis di Gaza juga menyatakan 5.300 orang dirawat karena luka-luka. Korban tewas dalam perang ini termasuk 109 perempuan, 113 orang tua, 14 paramedis, dan empat wartawan.
Israel mengatakan, sepuluh tentaranya dan tiga penduduknya terbunuh, baik dalam pertempuran maupun serangan roket. Selain itu, 200 lebih pasukan Israel terluka akibat tembakan lebih dari 700 roket dan mortar ke seluruh Israel oleh pejuang Hamas.
Satu-satunya pihak yang diuntungkan dari perang tak seimbang ini hanya politisi Israel yang berkuasa. PM Ehud Olmert yang reputasinya hancur gara-gara Perang Lebanon 2006 dan terjerat kasus korupsi kini punya jualan politik baru ke rakyat bahwa perang Gaza telah memperkuat deterens (kemampuan gertakan) Israel terhadap siapa pun yang mengancamnya. Untuk diketahui, gencatan senjata juga terjadi hanya kurang dari sebulan sebelum Israel menyelenggarakan pemilihan umum saat Olmert mestinya mengundurkan diri.

MER-C Tembus Gaza
Tim medis dari LSM bantuan kesehatan Indonesia, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) berhasil memasuki wilayah Gaza kemarin. Walaupun tanpa jaminan keselamatan, para relawan MER-C itu tetap masuk ke wilayah Palestina. Demi bisa melangkah ke daerah konflik tersebut, mereka telah dua kali menandatangani surat pernyataan tidak akan menuntut pemerintah Indonesia bila terjadi sesuatu.
“Ini risiko yang kami ambil untuk membantu sesama,” ujar dr Faried Thalib, salah satu relawan MER-C yang ada di Mesir, melalui telepon dalam konferensi pers yang digelar di kantor MER-C, Jakarta, kemarin.
Faried menuturkan, Mesir selektif dalam memberikan izin atau surat rekomendasi. Selain relawan medis, lanjut dia, relawan umum dan jurnalis tidak diperbolehkan masuk Jalur Gaza. Hambatan izin inilah yang menyulitkan relawan umum untuk mendistribusikan tenaganya.
Presidium MER-C Henry Hidayatullah mengatakan, tim itu dikirim pada 1 Januari 2009 dan baru diperbolehkan masuk Gaza pada 17 Januari 2009. Tim, lanjut dia, bergerak dari perbatasan Mesir menuju Palestina menggunakan bus Gaza City dengan nomor 08-2822616, kemudian dipindah ke mobil ambulans untuk menuju Jalur Gaza.
Dari lima anggota tim yang dikirim, hanya empat orang yang masuk Jalur Gaza. Faried Thalib tetap di Al Arish yang menjadi posko MER-C untuk mengurus segala macam perizinan, termasuk untuk tim relawan kedua yang segera diberangkatkan.
Di bagian lain, gencatan senjata sepihak tersebut cukup memberi ruang napas bagi rakyat Gaza. JPNN yang berada di Rafah, kota perbatasan Gaza dan Mesir, menyaksikan aliran bantuan yang masuk ke Gaza kemarin lebih lancar. Ini berbeda dengan situasi selama agresi Israel beberapa waktu lalu. Banyak sopir Palestina yang terhambat ketika menjemput bantuan.
Selain itu, korban Palestina yang dikirim ke Mesir pun semakin banyak. Mulai pagi hingga siang waktu setempat, sudah 27 pasien yang dilarikan ke rumah sakit Mesir. Dua puluh di antaranya anak-anak. Sisanya orang dewasa dengan luka sangat parah, seperti pemuda yang terkena bom sehingga kedua kakinya hancur.
Ke-27 pasien korban agresi Israel tersebut langsung dilarikan ke RS El Arish, sebuah rumah sakit di El Arish, ibu kota Provinsi Sinai Utara yang terletak sekitar 40 km dari makbar Rafah (pintu gerbang Rafah). Menurut dr Aiman Alhadi, ketua tim dokter RS El Arish, RS-nya merupakan rumah sakit transit. “Semuanya dibawa ke sini dulu (RS El Arish), mendapat pertolongan pertama, dan dirujuk ke RS lain,” katanya.
Hingga kemarin, sejak agresi Israel, pihaknya telah menerima sekitar 300 pasien. “Namun, ya itu, tidak ada yang lama dirawat di sini. Ketika kondisi membaik, kami segera merujuknya,’ urainya. Hanya, penjagaan di RS tersebut sangat ketat. Banyak sekali tentara yang berjaga di sana. Mendekat sedikit saja ke tempat para rakyat Palestina dirawat, para tentara tersebut langsung menggeleng.(ap/rtr/zul/*/kim)